Misi Kemanusiaan: Mekanik Asahan dan Komunitas Trail Tembus Isolasi Bencana Aceh Tamiang

Kisah inspiratif Mas Fauzi, mekanik asal Asahan, bersama komunitas trail menembus jalur sulit demi menyalurkan bantuan ke korban banjir Aceh Tamiang. Simak laporannya di sini.

Aksi Peduli Bencana

Minggu, 08 Desember 2025 — Bencana alam sering kali menjadi panggilan terkeras bagi hati nurani manusia. Ketika kabar duka datang dari Aceh Tamiang, rasa persaudaraan tidak mengenal batas wilayah. Hal inilah yang dirasakan oleh para mekanik dan komunitas motor di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Bukan sekadar memperbaiki mesin, kali ini mereka bergerak untuk memperbaiki harapan.

Di tengah kesibukan bengkel dan aktivitas sehari-hari, Mas Fauzi, seorang tokoh mekanik yang cukup dikenal di Asahan, memutuskan untuk tidak tinggal diam.

Panggilan Hati dari Silau Laut

Mas Fauzi, atau yang akrab disapa Fauzi, adalah pemilik bengkel Fuji Service yang beralamat di Silau Laut, Kabupaten Asahan. Sebagai Pengurus Komunitas Mekanik Koordinator Wilayah (Korwil) Asahan, ia memiliki jejaring yang kuat dengan rekan-rekan sesama pegiat otomotif.

Ketika berita mengenai dahsyatnya banjir di Aceh Tamiang menyebar di media sosial dan grup WhatsApp, Fauzi merasa gelisah. "Tidak bisa kita hanya berdiam diri memandang handphone," ungkapnya. Kalimat sederhana itu menjadi pemantik semangat bagi rekan-rekannya untuk segera bertindak.

Tanpa menunggu lama, koordinasi dilakukan. Fauzi menggandeng tim Latber Sering Ngetrel Asahan Tanjung Balai dan Musang Trel Asahan. Kolaborasi antara mekanik dan komunitas motor trail ini bukan tanpa alasan. Mereka menyadari bahwa medan di lokasi bencana sering kali sulit ditembus oleh kendaraan biasa, sehingga keahlian dan armada motor trail sangat dibutuhkan untuk menjangkau titik-titik terisolasi.

Perjalanan 10 Jam Menembus Malam

Rombongan misi kemanusiaan ini berangkat pada Sabtu sore. Perjalanan dari Asahan menuju Aceh Tamiang bukanlah jarak yang dekat. Mereka menghabiskan waktu sekitar 10 jam di jalan, membelah malam demi bisa segera sampai di lokasi terdampak.

Tim ini membawa dua jenis armada: mobil untuk logistik dan motor trail untuk operasional lapangan. Strategi ini terbukti krusial. Mobil digunakan untuk mengangkut bantuan utama hingga titik aman terakhir, sementara motor trail disiapkan untuk "menjemput bola" menembus jalur-jalur yang masih tertutup lumpur tebal atau puing-puing, yang belum bisa dilalui kendaraan roda empat.

Kenyataan Pahit di Lokasi Bencana

Sesampainya di Aceh Tamiang pada hari Minggu, 8 Desember 2025, rasa lelah perjalanan seketika hilang, berganti dengan rasa miris dan duka yang mendalam. Apa yang dilihat di layar ponsel ternyata jauh lebih menyedihkan ketika disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Mas Lilik, salah satu anggota tim yang ikut dalam rombongan, menggambarkan situasi via telepon dengan suara yang berat. "Sungguh miris sekali. Sampai saat ini kondisinya masih sangat memprihatinkan," lapornya.

Pemandangan di lapangan seolah menggambarkan betapa ganasnya alam saat sedang marah. Kayu-kayu gelondongan berukuran raksasa terlihat berserakan, menghantam dan menghancurkan tiang-tiang aliran listrik. Di beberapa titik, terlihat bekas tapak rumah yang kini rata dengan tanah; bangunannya hanyut terbawa terjangan air bah yang tak terkendali.

Saksi Bisu: Lumpur di Lantai Dua Pesantren

Salah satu momen yang paling menggetarkan hati tim relawan adalah saat mereka berada di sebuah pesantren setempat. Tim sempat beristirahat dan memantau situasi dari lantai dua bangunan tersebut.

Dari ketinggian itu, mereka memotret sebuah masjid yang berada di depan pesantren. Namun, yang mengejutkan adalah kondisi di dalam tempat mereka berpijak. Lantai dua pesantren tersebut penuh dengan endapan lumpur.

"Anda bisa bayangkan betapa dahsyatnya air ini," ujar salah satu relawan. Fakta bahwa lumpur bisa mengendap tebal hingga ke lantai dua menunjukkan bahwa tinggi muka air saat puncak banjir mencapai level yang sangat ekstrem. Ini bukan sekadar genangan, melainkan terjangan air yang mampu menenggelamkan bangunan bertingkat.

Solidaritas Tanpa Batas

Di sela-sela kegiatan penyaluran bantuan dan pembersihan akses, Mas Fauzi sempat menghubungi Ketua MIS (Mekanik Injeksi Sumut) melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, terdengar jelas nada kesedihan namun juga ketegaran.

"Hati siapa yang tidak hancur melihat kondisi seperti ini," ucap Fauzi. Namun, ia juga menegaskan bahwa kehadiran mereka di sana adalah bentuk dukungan moral bagi para korban.

Ia menutup laporannya dengan doa tulus bagi mereka yang telah berpulang. "Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi-Nya.. Aamiin."

Doa tersebut diamini oleh seluruh rekan-rekan komunitas Mekanik Injeksi Sumut. Slogan "Horas, Hebat, Luar Biasa" yang menjadi ciri khas komunitas ini, kali ini bermakna lebih dalam: hebat dalam kepedulian, dan luar biasa dalam pengorbanan.

Penutup

Aksi Mas Fauzi, Bengkel Fuji Service, dan rekan-rekan komunitas trail Asahan adalah bukti nyata bahwa pahlawan tidak selalu berjubah. Terkadang, mereka mengenakan baju bengkel yang penuh oli atau jaket motor yang berdebu.

Kepedulian mereka mengajarkan kita bahwa sekecil apapun langkah yang diambil, jauh lebih berarti daripada sekadar simpati tanpa aksi. Semoga Aceh Tamiang segera pulih, dan semangat gotong royong ini terus menyala di hati masyarakat Sumatera Utara dan Indonesia.



Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT